Tentang A eR Te (ART) ini pasti banyak cerita. Nggak cuma saya, hampir setiap rumah tangga punya cerita tentang ARTnya.
ART saya baru mulai kerja sama saya tanggal 24 Januari 2013, yaaahh...4 bulan lebih seminggu deh ya. Ini anak masih muda (kecil) dan baru pertama kali kerja. Alkisah, kakaknya udah duluan kerja di rumah kakak ipar saya, cuma beda blok aja sama rumah saya. Dia nawari saya, apa mau kalau adiknya ikut kerja sama saya dengan kondisi belum pernah punya pengalaman kerja sama sekali. Hmm...saya pikir, dia dulu juga baru pertama kali dan ternyata semua berjalan baik dan lancar. Pikir saya, aahh adiknya mah nggak akan jauh deh dari kakaknya, cuma saya perlu extra (sabar, nrimo, ikhlas) aja siiihh...
Yaaahh...namanya juga minim pengalaman, ya hidup ya kerja, jadinya anak ini di mata saya 'ndelahom' sekali' (ngelus dada). Dan memang, semakin lama tiggal bersama semakin kelihatan bahwa anak ini... hmm... yaaa... sorry to say ya..., bodoh (bodohnya nemen, kata orang jawa). --_--. Selain ini yo slebor, yo ora nyambung, yo lalen (laahh jadi bahasa jawa ini ungkapan emosi saiah), tambah lagi yo jorok, nek nyapu ngepel ora bersih tur bulu-bulu ijuk dan sampahnya suka ketinggalan padahal sangat kasat mata alias gede dan banyak dan ngeres di kaki --_--. Capeeeekk deeehhh....
Saya stres!!! Iya, stres berat! Sampai berat badan saya drop jauh dari normal, gara-gara kepala saya ini mikiiiirrrrr meluluuuu.... Saya ini bayar seseorang supaya rumah saya bersih dan bisa meringankan pekerjaan saya, biar saya bisa santai, tidak capek, banyak waktu buat anak-anak dan diri, lha koq ternyata...nggak sesuai harapan. Rumah dan lantai kotor, kerjaan nggak beres-beres. Laaahhh jadinya enak waktu saya pontang-panting sendirian tanpa ART. Keadaan kotor jelas, tapi saya mahfum, karena sadar diri atas keterbatasan tenaga dan waktu yang saya miliki. Lah ini...udah ada yang membantu tapi koq hasil yang saya dapat nggak signifikan. Ayah menyalahkan saya, karena saya perfeksionis, nggak bisa menurunkan standar saya. Saya sebel, koq nggak ada yang mengerti perasaan saya ni.
Tambah lagi...anak ini baru 4 bulan kerja di rumah saya, tapi gelas dan piring yang pecah sudah 8!! --__-- Yang terakhir baru saja terjadi 1 jam yang lalu, setelah kejadian terakhir adalah 3 hari yang lalu. Udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Hanya satu pertanyaannya tadi, "Apa lagi sekarang yang pecah mbak?" dan diakhiri dengan, "Habis ini apa lagi yang pecah mbak? Tobat aku mbak...!" Eeehhh 2 petanyaan ding ya.
Tapi lama kelamaan saya yo bisa juga nerima. Karena sudah terbiasa melihat ini sih..makanya nggak ribut lagi. Dan saya mensugesti diri saya sendiri, menyemangati dan memotivasi diri sendiri untuk bisa ikhlas nrimo keadaan, dan senantiasa bertenaga untuk mengingatkan hal yang sama berulang-ulang. ^_^. Daaaaannn..memasukkan pecahnya barang-barang ke dalam biaya hidup per bulan!
/bundi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar